{"id":18,"date":"2026-03-12T07:55:34","date_gmt":"2026-03-12T07:55:34","guid":{"rendered":"https:\/\/surabayatimes.co\/?p=18"},"modified":"2026-03-12T07:55:34","modified_gmt":"2026-03-12T07:55:34","slug":"coto-makassar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/2026\/03\/12\/coto-makassar\/","title":{"rendered":"Sejarah Coto Makassar"},"content":{"rendered":"<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">Coto Makassar: Mahakarya Kuliner dari Abad ke-16 yang Masih &#8220;Menjajah&#8221; Lidah Kita Sampai Sekarang<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Ngomongin soal makanan khas Makassar, pasti yang pertama kali terlintas di kepala adalah semangkuk kuah kental berisi potongan daging dan jeroan sapi yang aromanya bikin perut langsung keroncongan. Ya,\u00a0<strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Coto Makassar<\/strong>\u00a0bukan sekadar sup daging biasa. Di balik kelezatannya, tersimpan sejarah panjang yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.<\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Kalau kita lihat gambar pasukan Romawi di atas\u2014yang berdiri kokoh dengan zirah besinya\u2014Coto Makassar juga punya &#8220;zirah&#8221; pelindung berupa 40 macam rempah yang bikin rasanya nggak ada tandingan. Yuk, kita telusuri perjalanannya dari istana raja sampai ke pinggir jalan!<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">1. Lahir di Abad ke-16: Hidangan Para Bangsawan Gowa<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICRAA\" data-processed=\"true\" data-complete=\"true\">Coto Makassar diperkirakan sudah muncul sejak masa kejayaan\u00a0<strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Kerajaan Gowa<\/strong>\u00a0di abad ke-16, tepatnya di Somba Opu. Awalnya, makanan ini bukanlah hidangan sembarangan. Coto adalah sajian istimewa yang khusus dihidangkan bagi keluarga kerajaan dan tamu-tamu agung.<\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIChAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Uniknya, di zaman dulu, ada kasta dalam menikmati Coto. Bagian daging sapi yang berkualitas tinggi biasanya disajikan untuk para raja dan bangsawan. Sementara bagian jeroan seperti hati, paru, limpa, dan babat diberikan kepada para pengawal kerajaan atau masyarakat kelas bawah. Tapi, justru campuran jeroan inilah yang bikin kuah Coto jadi makin kaya rasa dan ikonik sampai sekarang.<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">2. Jejak Pengaruh Global dalam Semangkuk Kuah<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Makassar sejak dulu adalah pelabuhan internasional yang sangat sibuk. Hal ini ternyata memengaruhi resep Coto Makassar. Kuah kental yang kita nikmati sekarang adalah hasil perpaduan budaya.<\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIDBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Sentuhan rempah-rempah yang melimpah menunjukkan kekayaan alam Sulawesi. Sementara penggunaan tauco (fermentasi kedelai) dalam kuahnya diyakini merupakan pengaruh dari para pedagang Tiongkok yang menetap di Makassar pada masa itu. Jadi, semangkuk Coto sebenarnya adalah bukti sejarah toleransi dan akulturasi budaya yang manis.<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">3. &#8220;Rempah Patang Pulo&#8221;: Rahasia Kekuatan Rasa<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIDRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Apa yang bikin Coto Makassar beda dari soto-soto lainnya di Indonesia? Jawabannya ada pada\u00a0<strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Rempah Patang Pulo<\/strong>\u00a0atau 40 jenis rempah.<\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIDhAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Bahan-bahannya nggak main-main, mulai dari kacang tanah goreng yang dihaluskan (yang bikin kuahnya kental dan gurih), jahe, lengkuas, sereh, ketumbar, jinten, hingga rempah rahasia lainnya. Penggunaan kacang tanah ini sebenarnya bukan cuma buat rasa, tapi juga berfungsi sebagai penawar zat purin yang ada pada jeroan. Cerdas banget, kan?<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">4. Teman Setia: Buras dan Ketupat<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIDxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Coto Makassar nggak pernah &#8220;jalan sendirian&#8221;. Dia selalu ditemani oleh\u00a0<strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Buras<\/strong>\u00a0(nasi santan yang dibungkus daun pisang) atau ketupat. Cara makannya pun unik; ketupat biasanya dipotong kecil-kecil langsung di dalam mangkuk Coto. Ditambah perasan jeruk nipis dan sambal tauco yang pedas nendang, rasanya beneran bisa bikin kamu lupa daratan!<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">5. Berapa Banyak Warung Coto Sekarang?<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIEBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Mungkin kamu bertanya-tanya, seberapa populer sih Coto Makassar sekarang? Meskipun nggak ada data statistik yang benar-benar pasti sampai ke angka satuan, diperkirakan ada\u00a0<strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">ribuan warung Coto Makassar<\/strong>\u00a0yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan dunia!<\/div>\n<ul class=\"KsbFXc U6u95\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">\n<li class=\"dF3vjf\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIERAA\" data-complete=\"true\" data-sae=\"\"><span class=\"T286Pc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">Di Makassar Sendiri<\/strong>: Di kota asalnya, hampir di setiap sudut jalan kamu bisa menemukan penjual Coto. Mulai dari warung legendaris yang sudah turun-temurun puluhan tahun, sampai pedagang kaki lima.<\/span><\/li>\n<li class=\"dF3vjf\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIERAB\" data-complete=\"true\" data-sae=\"\"><span class=\"T286Pc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">Ekspansi Nasional<\/strong>: Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, Coto Makassar sudah jadi menu wajib di festival kuliner. Di Jakarta saja, ada ratusan rumah makan spesialis Coto yang selalu ramai saat jam makan siang.<\/span><\/li>\n<li class=\"dF3vjf\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIERAC\" data-complete=\"true\" data-sae=\"\"><span class=\"T286Pc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">Go International<\/strong>: Coto Makassar juga sudah &#8220;terbang&#8221; ke luar negeri. Di beberapa kota besar di Australia, Belanda, dan Amerika Serikat, komunitas warga Indonesia sering kali membuka kedai yang menyajikan Coto untuk mengobati rasa rindu kampung halaman.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"AdPoic\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\">Kesimpulan<\/strong><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIEhAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Coto Makassar bukan cuma soal mengisi perut, tapi soal menghargai sejarah. Dari hidangan mewah di meja raja, kini Coto bisa dinikmati siapa saja, kapan saja. Ia adalah simbol identitas masyarakat Sulawesi yang kuat, kaya akan rempah, dan selalu hangat dalam menyambut siapa pun yang datang.<\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIExAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Jadi, kalau besok kamu mampir ke warung Coto, ingatlah kalau kamu sedang menikmati mahakarya sejarah yang sudah bertahan selama lima abad lebih!<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<hr class=\"j3tEEe\" data-sfc-pl=\"|[]\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\" \/>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIFRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><strong class=\"Yjhzub\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Sobat Kuliner, kamu tim daging saja atau tim campur jeroan nih?<\/strong>\u00a0Tulis pendapatmu di kolom komentar ya! Dan kalau kamu punya rekomendasi warung Coto paling enak di kotamu, jangan ragu buat berbagi di sini!<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<hr class=\"j3tEEe\" data-sfc-pl=\"|[]\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\" \/>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Coto Makassar: Mahakarya Kuliner dari Abad ke-16 yang Masih &#8220;Menjajah&#8221; Lidah Kita Sampai Sekarang Ngomongin&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[16,17,18,12,19],"class_list":["post-18","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-makananan","tag-coto-makassar","tag-kuliner-nusantara","tag-makanan-khas-makassar","tag-sejarah-makanan","tag-wisata-kuliner-sulawesi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18\/revisions\/20"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayatimes.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}